MAKALAH MANUSIA DAN PENDERITAAN
NAMA
: FAJAR KURNIAWAN
NPM
: 52417110
KELAS
: 1IA14
UNIVERSITAS
GUNADARMA
KATA PENGANTAR
Puji dan
Syukur Penulis Panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan
Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah. Makalah ini
membahas “Manusia dan Penderitaan”
Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapat tantangan dan
hambatan akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa
teratasi. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih
yang sebesar
– besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk
penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca sangatpenulis
harapkan untuk kesempurnaan makalah selanjutnya. Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita
sekalian.
Hormat kami,
Penyusun
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
Halaman Judul.................................................................................................................... i
Kata Pengantar................................................................................................................... ii
Daftar Isi........................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.............................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah………………………………………………………........................ 3
1.3 Tujuan……………………………………………………………………………........... 3
1.3 Tujuan……………………………………………………………………………........... 3
BAB II PEMBAHSAN
BAB III PENUTUP……………………………………………............................. 15
KESIMPULAN DAN SARAN.............................................................................. 16
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………........................... 17
BAB I
PENDAHULUAN
1 Latar Belakang
Setiap manusia yang hidup di dunia pasti pernah merasakan penderitaan. Baik itu ringan atau berat. Hidup tidaklah selalu bahagia tuhan memiliki caranya sendiri untuk mengukursebarapa kuat iman kepadanya. Hidup di duniapun tidak selalu menderita, sedih, ataupun susah. Terkadang saat manusia terlalu terbuai dengan kesenangan duniawi manusia akan melupakan batasan-batasan yang ada sehingga tuhan akan memberikan cobaan untuknya yang membuatnya menderita. Penderitaan selalu datang tak terduga, manusia takkan pernah tau kapan , jam berapa, menit keberapa, dan detik keberapa penderitaan akan datang menghampiri hidupnya. Manusia hanya perlu menjalani hidupnya dengan sebaik baiknya dengan aturan yang berlaku dan sesuai kepercayaan yang ia anut.
Setiap manusia yang hidup di dunia pasti pernah merasakan penderitaan. Baik itu ringan atau berat. Hidup tidaklah selalu bahagia tuhan memiliki caranya sendiri untuk mengukursebarapa kuat iman kepadanya. Hidup di duniapun tidak selalu menderita, sedih, ataupun susah. Terkadang saat manusia terlalu terbuai dengan kesenangan duniawi manusia akan melupakan batasan-batasan yang ada sehingga tuhan akan memberikan cobaan untuknya yang membuatnya menderita. Penderitaan selalu datang tak terduga, manusia takkan pernah tau kapan , jam berapa, menit keberapa, dan detik keberapa penderitaan akan datang menghampiri hidupnya. Manusia hanya perlu menjalani hidupnya dengan sebaik baiknya dengan aturan yang berlaku dan sesuai kepercayaan yang ia anut.
1.2 Rumusan
Masalah
Adapun masalah-masalah yang akan dibahas :
1. Pengertian penderitaan dan sebab nya .
2. Pengertian ketakutan dan phobia.
3. Pengertian siksaan .
4. Siksaan yang bersifat psikis .
Adapun masalah-masalah yang akan dibahas :
1. Pengertian penderitaan dan sebab nya .
2. Pengertian ketakutan dan phobia.
3. Pengertian siksaan .
4. Siksaan yang bersifat psikis .
1.3 Tujuan
1. Untuk memahami pengertian dari penderitaan .
2. Untuk mengetahui penyebab penderitaan
3. Untuk memahami pengertian dari siksaan .
4. Untuk mengetahui siksaan yang bersifat psikis dalam kehidupan manusia .
1. Untuk memahami pengertian dari penderitaan .
2. Untuk mengetahui penyebab penderitaan
3. Untuk memahami pengertian dari siksaan .
4. Untuk mengetahui siksaan yang bersifat psikis dalam kehidupan manusia .
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Penderitaan
Penderitaan berasal dari kata
derita, derita berasal dari bahasa sansekerta, dhra yang berarti menahan atau
menanggung. Sedangkan menurut kamus besar Bahasa indonesia derita artinya
menanggung (merasakan) sesuatu yang tidak menyenangkan. Dengan demikian
merupakan lawan kata dari kesenangan ataupun kegembiraan.[1]
2.2
Penderitaan & sebab-sebabnya
Apabila dikelompokkan secara sederhana berdasarkan
sebab-sebab timbulnya penderitaan, maka penderitaan manusia dapat dibagi
sebagai berikut :
1. Penderitaan yang timbul karena perbuatan buruk manusia
Penderitaan yang menimpa manusia karena perbuatan buruk manusia dapat terjadi dalam hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Karena perbuatan buruk antara sesama manusia maka manusia lain menjadiderita. Perbuatan buruk manusia terhadap lingkungannya juga menyebabkan penderitaan manusia. Kesadaran itu baru timbul setelah musibah yang membuat manusia menderita.
2. Penderitaan yang timbul akibat penyakit,siksaan/azab Tuhan
1. Penderitaan yang timbul karena perbuatan buruk manusia
Penderitaan yang menimpa manusia karena perbuatan buruk manusia dapat terjadi dalam hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Karena perbuatan buruk antara sesama manusia maka manusia lain menjadiderita. Perbuatan buruk manusia terhadap lingkungannya juga menyebabkan penderitaan manusia. Kesadaran itu baru timbul setelah musibah yang membuat manusia menderita.
2. Penderitaan yang timbul akibat penyakit,siksaan/azab Tuhan
Penderitaan
manusia dapat juga terjadi akibat penyakit/siksaaan/azab Tuhan. Namun
kesabaran, tawakal, & optimisme dapat merupakan usaha manusia untuk
mengatasi penderitaan itu.
2.3
Jenis Kesedihan
Yang jelas, setiap kesedihan membawa tantangan tersendiri untuk dihadapi. Di bawah ini beberapa contoh musibah atau kesedihan yang dapat melahirkan reaksi berbeda-beda dan bagaimana seharusnya Anda bertindak.
Yang jelas, setiap kesedihan membawa tantangan tersendiri untuk dihadapi. Di bawah ini beberapa contoh musibah atau kesedihan yang dapat melahirkan reaksi berbeda-beda dan bagaimana seharusnya Anda bertindak.
* Kehilangan
orang tua
Hubungan
kita dengan orang tua merupakan suatu hubungan yang unik. Oleh sebab itu
pasangan diharapkan bisa memahami makna kehilangan ini. Misalnya dengan
berusaha menggantikan posisinya demi mendukung pasangan. Antara lain dengan
cara selalu berada di dekatnya, menjadi pendengar yang baik, dan selalu siap
membantunya.
* Keguguran
Kehamilan merupakan suatu hal yang dinanti-nantikan
bagi banyak pasangan dan juga merupakan suatu kebahagian tersendiri. Tetapi
sayangnya rencana tidak selalu berjalan mulus. Masalah genetika/keturunan
mungkin dapat menyebabkan pasangan susah mendapatkan anak atau selalu
keguguran. Secara naluri, seorang ibu akan merasa lebih kehilangan dibanding
pasangannya.
Tapi sebaliknya, sebagai pasangan dan seorang laki-laki pada umumnya, mereka berjuang untuk menahan emosi terdalamnya. Bagaimanapun juga, sebagai ayah merasa kehilangan merupakan kesedihan juga. Dengan sedikit dukungan atau pengertian, mereka akan dapat menghadapinya.
* Kehilangan anak
Jika bayi sudah lahir dan kemudian dalam beberapa
bulan kemudian dipanggil Yang Maha Kuasa, ibu umumnya akan memiliki perasaan
seolah-olah menyalahkan dirinya dan terus bertanya-tanya apa kesalahan yang
telah diperbuatnya sehingga buah hatinya meninggalkannya untuk selamanya. Nah,
umumnya pasangan mencoba untuk memberikan dukungan yang rasional. Tapi
bagaimanapun juga, keduanya harus berusaha keras dengan tidak mencoba mencari
jawaban atau mencari penyebabnya sehingga hal itu terjadi.
Mayoritas orang berpendapat sama, bahwa kehilangan anak merupakan suatu penderitaan dan kesedihan yang sangat besar yang harus dihadapi. Orang tua umumnya merasa sangat syok, mereka berdua akan sangat menderita dan menjadi sulit untuk menerima keadaan. Hal ini akan menyulitkan mereka untuk mengatasi proses penderitaan. Bisa saja, yang satu jadi sangat sensitif dan lainnya jadi gampang marah. Akibatnya, hubungan suami-istri jadi memburuk.[2]
Study kasus
Beberapa bulan lalu Jakarta Ibukota
negara ini dilanda banjir besar, diperkirakan sekitar 2/3 wilayah jakarta
tergenang air yang membuat warga jakarta dan sekitarnya mengalami penderitaan,
penderitaan yang dialami warga Jakarta dan sekitarnya pada saat banjir antara
lain hilangnya harta benda karena terbawa arus air, perjalanan terganggu karena
disebagian jalan protokol di Jakarta dan sekitarnya juga tergenang air,
mengalami pemadaman listrik sampai matinya alat telekomunikasi dan internet serta
tidak bisa melakukan aktivitas karena kantor-kantor juga tergenang banjir,
sampai pada tingkat yang mengenaskan yaitu hilangnya nyawa karena banjir itu
sendiri. Badan Koordinasi Nasional (Bakornas) Penanganan Banjir menyatakan data
korban meninggal karena banjir di DKI Jakarta dan Jawa Barat mencapai 67 orang.
"Mereka tewas karena tenggelam dan terseret arus," ujar Pelaksana
Tugas Deputi Kesiapsiagaan Bakornas, Sugeng di Jakarta, Jumat (9/2) malam.[3]
Banjir ini disebabkan meluapnya sungai dan kali di
Jakarta akibat curah hujan yang tinggi dan mampetnya sungai karena banyaknya
sampah
2.4 Siksaan
Penderitaan biasanya
di sebabkan oleh siksaan. Baik fisik ataupun jiwanya.Siksaan atau penyiksaan
(Bahasa Inggris: torture) digunakan untuk merujuk pada penciptaan rasa sakit
untuk menghancurkan kekerasan hati korban. Segala tindakan yang menyebabkan penderitaan,
baik secara fisik maupun psikologis, yang dengan sengaja dilakukkan terhadap
seseorang dengan tujuan intimidasi, balas dendam, hukuman, pemaksaan informasi,
atau mendapatkan pengakuan palsu untuk propaganda atau tujuan politik dapat
disebut sebagai penyiksaan. Siksaan dapat digunakan sebagai suatu cara
interogasi untuk mendapatkan pengakuan. Siksaan juga dapat digunakan sebagai
metode pemaksaan atau sebagai alat untuk mengendalikan kelompok yang dianggap
sebagai ancaman bagi suatu pemerintah.Arti siksaan, siksaan berupa
jasmani dan rohani bersifat psikis, kebimbangan, kesepian, ketakutan.
Siksaan Yang Sifatnya
Psikis :
Kebimbangan.
memiliki arti tidak
dapat menetukan pilihan mana yang akan dipilih.
Kesepian.
merupakan rasa sepi
yang dia alami pada dirinya sendiri / jiwanya walaupun ia dalam lingkungan
orang ramai.
Ketakutan.
adalah sebuah sesuatu yang tidak dinginkan yang dapat menyebabkan seseorang
mengalami siksaan batin. Bila rasa takut itu dibesar – besarkan tidak pada
tempatnya, maka disebut sebagai phobia.
penyebab seseorang
merasakan ketakutan, antara lain:
1.
Claustrophobia dan agrophobia adalah rasa takut terhadap ruangan tertutup.
2.
Gamang adalah rasa takut akan tempat yang tinggi.
3.
Kegelapan adalah rasa takut bila seseorang berada di tempat gelap.
4.
Kesakitan merupakan ketakutan yang disebabkan oleh rasa sakit yang akan dialami.
5.
Kegagalan ketakutan dari seseotang disebabkan karena merasa bahwa apa yang akan
dijalankan mengalami kegagalan.
a. Kebimbangan
Kebimbangan pasti akan dialami ketika seseorang
dihadapkan oleh dua pilihan yang penting yang ia tidak dapat menentukan pilihan
yang mana yang akan diambil.
Pada kasus banjir di Jakarta, banyak warga Jakarta
mengalami kebimbangan, apakah saat banjir datang mereka mengungsi atau tetap
berada dirumah sambil menunggu air surut, kebimbangan mereka antara lain
disebabkan kecemasan akan aman atau tidaknya harta benda mereka jika ditinggal
mengungsi, karena di Jakarta banyak orang-orang yang mengambil kesempatan dalam
kesempitan dan disatu sisi bahwa jika mereka tetap tinggal di rumah, mereka
juga cemas jika banjir melanda rumah mereka berhari-hari dan ketersedian bahan
makanan akan habis bagaimana dengan anak-anak mereka. Inilah contoh kebimbangan
yang dialami warga Jakarta dan sekitarnya pada saat banjir melanda Jakarta dan
sekitarnya pada beberapa bulan yang lalu, keadaan ini berpengaruh tidak baik
baik orang yang lemah pikirannya, karena masalah kebimbangan akan lama dialami
olehnya sehingga siksaan yang dirasakan olehnya pun menjadi berkepanjangan.
Bagi orang yang kuat berfikir ia akan cepat mengambil keputusan dengan
berdasarkan pertimbangan prioritas, prioritas pada kasus banjir di Jakarta dan
sekitarnya adalah nyawa mereka dan anak-anak mereka bukan harta benda, karena
harta benda dapat dicari / dibeli kembali tetapi nyawa mereka dan anak-anak
mereka tak dapat kembali lagi.
b. Kesepian
Kesepian dialami seseorang berupa rasa sepi dalam
dirinya atau jiwanya, hal ini akan terus ia rasakan walaupun ia dalam
lingkungan orang ramai.[4] Ini yang perlu dianalisa pertama
kali. Perbedaan antara kesepian dengan kesendirian. Kesepian itu perasaan sepi.
Sendirian itu ketika seseorang dalam keadaan sendiri. Kesepian bisa berarti
seperti “tikus kelaparan di lumbung padi”. Banyak orang di
sekitarnya tetapi tetap merasa sepi. Sedangkan sendirian dalam keadaan sendiri,
tetapi tidak merasa sepi.
Pada kasus tsunami di Aceh pada Tanggal 26 Desember
2004, banyak orang Aceh yang mengalami kesepian, kesepian ini dikarenakan
banyak orang-orang Aceh ditinggal mati keluarga dan orang yang mereka sayangi,
mereka merasa kesepian bahkan sampai ada yang tak mau hidup lagi, karena mereka
beranggapan hidup mereka tidak beguna lagi tanpa orang-orang yang mereka
sayangi, hari-harinya mereka merasa kesepian walaupun ditengah orang yang ramai
menghibur dirinya.
Seperti juga kebimbangan, kesepian perlu segera
diatasi agar seseorang tidak terus menerus merasakan penderitaan batin. Solusi
yang kami tawarkan adalah :
1. Berfikir positif, Yakinlah
semua yang telah menimpah manusia adalah berasal dari ketentuan Allah, ingatlah
Allah SWT tidak pernah memberikan ujian yang melebihi batas kemampuan manusia,
berdoa dan kembali lebih mendekatkan diri kepada Allah akan membuat hati
(batin) tidak kesepian, karena Allah akan selalu bersama manusia dikala senang
/ bahagian maupun dikala duka / menderita.
2. Sebagai homo socius,
seorang perlu kawan untuk menghilangkan rasa kesepian, orang itu perlu cepat
mencari kawan yang dapat diajak untuk berkomunikasi yang dapat mengerti dan
menghayati kesepian yang dialami kawan lainnya.
3. Selain mencari kawan,
untuk menghilangkan rasa kesepian, seseorang juga perlu mengisi waktunya dengan
suatu kesibukan, khususnya yang bersifat fisik, sehingga rasa kesepian tidak
lagi memperoleh tempat yang menyita waktu dalam dirinya.[5]
c. Ketakutan
Ketakutan (fobia) adalah kecemasan yang luar biasa,
terus menerus dan tidak realistis, sebagai respon terhadap keadaan eksternal
tertentu. Fobia adalah rasa ketakutan yang
berlebihan pada sesuatu hal atau fenomena. Fobia bisa dikatakan dapat menghambat kehidupan
orang yang mengidapnya. Bagi sebagian orang, perasaan takut seorang pengidap
Fobia sulit dimengerti. Itu sebabnya, pengidap tersebut sering dijadikan bulan
bulanan oleh teman sekitarnya. Ada perbedaan "bahasa" antara pengamat
fobia dengan seorang pengidap fobia. Pengamat fobia menggunakan bahasa logika
sementara seorang pengidap fobia biasanya menggunakan bahasa rasa. Bagi
pengamat dirasa lucu jika seseorang berbadan besar, takut dengan hewan kecil
seperti kecoak atau tikus. Sementara dibayangan mental seorang pengidap fobia subjek tersebut
menjadi benda yang sangat besar, berwarna, sangat menjijikkan ataupun
menakutkan.
Dalam keadaan normal setiap orang memiliki kemampuan
mengendalikan rasa takut. Akan tetapi bila seseorang terpapar terus menerus
dengan subjek Fobia, hal tersebut berpotensi menyebabkan terjadinya
fiksasi. Fiksasi adalah suatu keadaan dimana mental seseorang
menjadi terkunci, yang disebabkan oleh ketidak-mampuan orang yang bersangkutan
dalam mengendalikan perasaan takutnya. Penyebab lain terjadinya fiksasi dapat
pula disebabkan oleh suatu keadaan yang sangat ekstrim seperti trauma bom, terjebak lift dan sebagainya.
Seseorang yang pertumbuhan mentalnya mengalami fiksasi
akan memiliki kesulitan emosi (mental blocks) dikemudian harinya. Hal tersebut
dikarenakan orang tersebut tidak memiliki saluran pelepasan emosi (katarsis)
yang tepat. Setiap kali orang tersebut berinteraksi dengan sumber Fobia secara
otomatis akan merasa cemas dan agar "nyaman" maka cara yang paling
mudah dan cepat adalah dengan cara "mundur kembali"/regresi kepada
keadaan fiksasi. Kecemasan yang tidak diatasi seawal mungkin berpotensi
menimbulkan akumulasi emosi negatif yang secara terus menerus ditekan kembali
ke bawah sadar (represi). Pola respon negatif tersebut dapat berkembang
terhadap subjek subjek fobia lainnya dan intensitasnya semakin meningkat.
Walaupun terlihat sepele, “pola” respon tersebut akan dipakai terus menerus
untuk merespon masalah lainnya. Itu sebabnya seseorang penderita fobia menjadi
semakin rentan dan semakin tidak produktif. Fobia merupakan salah satu dari
jenis jenis hambatan sukses lainnya.[6]
penyakit ketakutan (fobia) adalah kecemasan
yang luar biasa, terus menerus dan tidak realistis, sebagai respon terhadap
keadaan eksternal tertentu.
penderita biasanya menghindari keadaan-keadaan yang bisa memicu terjadinya kecemasan atau menjalaninya dengan penuh tekanan.
penderita menyadari bahwa kecemasan yang timbul adalah berlebihan dan karena itu mereka sadar bahwa mereka memiliki masalah.
penderita biasanya menghindari keadaan-keadaan yang bisa memicu terjadinya kecemasan atau menjalaninya dengan penuh tekanan.
penderita menyadari bahwa kecemasan yang timbul adalah berlebihan dan karena itu mereka sadar bahwa mereka memiliki masalah.
agorafobia
arti harfiah dari agorafobia adalah takut akan keramaian atau tempat terbuka. secara lebih khusus agorafobia menunjukkan ketakutan akan terperangkap, tanpa cara yang mudah untuk terlepas bila kecemasan menyerang.
arti harfiah dari agorafobia adalah takut akan keramaian atau tempat terbuka. secara lebih khusus agorafobia menunjukkan ketakutan akan terperangkap, tanpa cara yang mudah untuk terlepas bila kecemasan menyerang.
keadaan-keadaan yang sulit bagi penderita agoraphobia
adalah antri di bank atau pasar swalayan, duduk di tengah-tengah bioskop atau
ruang kelas dan mengendarai bis atau pesawat terbang. beberapa orang menderita
agorafobia setelah mengalami serangan panik pada salah satu keadaan tersebut. yang
lainnya hanya merasakan tidak nyaman dan tidak pernah mengalami serangan panik.
agorafobia sering mempengaruhi kegiatan sehari-hari, kadang sangat berat sehingga penderita hanya diam di dalam rumah.
pengobatan terbaik untuk agorafobia adalah terapi
pemaparan,
dengan bantuan seorang ahli, penderita mencari, mengendalikan dan tetap berhubungan dengan apa yang ditakutinya sampai kecemasannya secara perlahan berkurang karena sudah terbiasa dengan keadaan tersebut (proses ini disebut habituasi). psikoterapi dilakukan agar penderita lebih memahami pertentangan psikis yang melatarbelakangi terjadinya kecemasan.
dengan bantuan seorang ahli, penderita mencari, mengendalikan dan tetap berhubungan dengan apa yang ditakutinya sampai kecemasannya secara perlahan berkurang karena sudah terbiasa dengan keadaan tersebut (proses ini disebut habituasi). psikoterapi dilakukan agar penderita lebih memahami pertentangan psikis yang melatarbelakangi terjadinya kecemasan.
fobia spesifik
fobia spesifik merupakan penyakit kecemasan yang
paling sering terjadi.
beberapa fobia spesifik (misalnya takut binatang, kegelapan atau orang asing) mulai timbul pada masa kanak-kanak. banyak fobia yang menghilang setelah penderita beranjak dewasa. fobia lainnya (misalnya takut hewan pengerat, serangga, badai, air, ketinggian, terbang atau tempat tertutup) baru timbul di kemudian hari. 5% penduduk menderita fobia tingkat tertentu pada darah, suntikan atau cedera; dan penderita bisa mengalami pingsan, yang tidak terjadi pada fobia maupun penyakit kecemasan lainnya.
beberapa fobia spesifik (misalnya takut binatang, kegelapan atau orang asing) mulai timbul pada masa kanak-kanak. banyak fobia yang menghilang setelah penderita beranjak dewasa. fobia lainnya (misalnya takut hewan pengerat, serangga, badai, air, ketinggian, terbang atau tempat tertutup) baru timbul di kemudian hari. 5% penduduk menderita fobia tingkat tertentu pada darah, suntikan atau cedera; dan penderita bisa mengalami pingsan, yang tidak terjadi pada fobia maupun penyakit kecemasan lainnya.
sebaliknya, banyak pendeita penyakit kecemasan yang
mengalami hiperventilasi, yang menimbulkan perasaan akan pingsan,
tetapi mereka tidak pernah benar-benar pingsan.
penderita seringkali dapat mengatasi fobia spesifik
dengan cara menghindari benda atau keadaan yang ditakutinya.
terapi pemaparan merupakan sejenis terapi
perilaku dimana penderita secara bertahap dihadapkan kepada benda atau keadaan
yang ditakutinya. terapi ini merupakan pengobatan terbaik untuk fobia
spesifik.
psikoterapi dilakukan agar penderita memahami pertentangan psikis yang mungkin melatarbelakangi terjadinya fobia spesifik.
psikoterapi dilakukan agar penderita memahami pertentangan psikis yang mungkin melatarbelakangi terjadinya fobia spesifik.
fobia sosial
kemampuan seseorang untuk menjalin hubungan yang
serasi dengan yang lainnya melibatkan berbagai aspek kehidupan, termasuk
hubungan keluarga, pendidikan, pekerjaan, hobi, kencan dan perjodohan.
kecemasan tertentu dalam situasi sosial adalah normal, tetapi penderita fobia sosial merasakan kecemasan yang berlebihan sehingga mereka menghindari situasi sosial atau menghadapinya dengan penuh tekanan.
penelitian terbaru menunjukkan bahwa 13% penduduk pernah mengalami fobia sosial. [7]
kecemasan tertentu dalam situasi sosial adalah normal, tetapi penderita fobia sosial merasakan kecemasan yang berlebihan sehingga mereka menghindari situasi sosial atau menghadapinya dengan penuh tekanan.
penelitian terbaru menunjukkan bahwa 13% penduduk pernah mengalami fobia sosial. [7]
keadaan-keadaan yang sering memicu terjadi kecemasan
pada penderita fobia sosial adalah:
- berbicara di depan umum
- tampil di depan umum (main
drama atau main musik)
- makan di depan orang lain
- menandatangani dokumen
sebelum bersaksi
- menggunakan kamar mandi
umum. penderita merasa penampilan atau aksi mereka tidak tepat.
mereka seringkali khawatir bahwa kecemasannya akan
tampak, sehingga mereka berkeringat, pipinya kemerahan, muntah, gemetaran atau
suaranya bergetar; jalan pikirannya terganggu atau tidak mampu menemukan
kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan maksud mereka.
jenis fobia sosial yang lebih umum ditandai dengan kecemasan pada hampir seluruh situasi sosial.
penderita fobia sosial menyeluruh biasanya merasa
bahwa penampilannya tidak sesuai dengan yang diharapkan, mereka akan merasa
terhina atau dipermalukan.
beberapa orang memiliki rasa malu yang wajar dan menunjukkan malu--malu pada masa kanak-kanak yang di kemudian hari berkembang menjadi fobia sosial. yang lainnya mengalami kecemasan dalam situasi sosial pertama kali pada masa pubertas.
fobia sosial sering menetap jika tidak diobati,
sehingga penderita menghindari aktivitas yang sesungguhnya ingin mereka ikuti. terapi
pemaparan merupakan sejenis terapi perilaku yang efektif untuk
mengatasi fobia sosial.
psikoterapi dilakukan agar penderita lebih
memahami pertentangan batin yang mungkin melatarbelakangi terjadinya fobia
sosial.
Beberapa istilah sehubungan dengan fobia :
§
hydrophobia — ketakutan akan air.
§
photophobia — ketakutan akan cahaya.
§
antlophobia — takut akan banjir.
§
cenophobia — takut akan ruangan yang kosong
2.5 Kekalutan Mental
Bentuk gangguan dan kekacauan fungsi mental, atau
kesehatan mental yang disebabkan oleh kegagalan bereaksinya mekanisme adaptasi
dari fungsi-fungsi kejiwaan terhadap stimuli ekstern dan ketegangan-ketegangan,
sehingga muncul gangguan fungsi atau gangguan struktur dari satu bagian, satu
organ, atau sistem kejiwaan/mental. Merupakan totalitas kesatuan ekspresi
proses kejiwaan/mental yang patologis terhadap stimuli sosial, dikombinasikan
dengan faktor-faktor kausatif sekunder lainnya (patalogi = ilmu penyakit ).[8]
Secara sederhana, kekalutan mental dapat dirumuskan
sebagai gangguan kejiwaan akiba ketidak mampuan seseorang mengatasi persoalan
hidup yang harus dijalaninya, sehingga yang bersangkuan bertingkah secara
kurang wajar.
2.6
Gejala-gejala permulaan pada orang yang mengalami kekalutan mental adalah
sebagai berikut :
1. nampak pada jasmani yang sering merasakan pusing, sesak napas, demam, nyeri pada lambung
2. nampak pada kejiwaannya dengan rasa cemas, ketakutan, patah hati, apatis, cemburu, mudah marah.
3. Selalu iri hati dan curiga, ada kalanya dihinggapi khayalan, dikejar-kejar sehingga dia menjadi sangat agresif, berusaha melakukan pengrusakan atau melakukan detruksi diri dan bunuh diri.
4. Komunikasi sosial putus dan ada yang disorientasi social
5. Kepribadian yang lemah atau kurang percaya diri sehingga menyebabkan yang bersangkutan merasa rendah diri, ( orang-orang melankolis)
6. Terjadinya konflik sosial – budaya akibat dari adanya norma yang berbeda antara dirinya dengan lingkungan masyarakat.
1. nampak pada jasmani yang sering merasakan pusing, sesak napas, demam, nyeri pada lambung
2. nampak pada kejiwaannya dengan rasa cemas, ketakutan, patah hati, apatis, cemburu, mudah marah.
3. Selalu iri hati dan curiga, ada kalanya dihinggapi khayalan, dikejar-kejar sehingga dia menjadi sangat agresif, berusaha melakukan pengrusakan atau melakukan detruksi diri dan bunuh diri.
4. Komunikasi sosial putus dan ada yang disorientasi social
5. Kepribadian yang lemah atau kurang percaya diri sehingga menyebabkan yang bersangkutan merasa rendah diri, ( orang-orang melankolis)
6. Terjadinya konflik sosial – budaya akibat dari adanya norma yang berbeda antara dirinya dengan lingkungan masyarakat.
2.7
Tahap-tahap gangguan jiwa :
1. Gangguan kejiwaan nampak dalam gejala-gejala kehidupan si penderita baik jasmani maupun rohaninya.
2. Usaha mempertahankan diri dengan cam negatif, yaitu mundur atau lari, sehingga cara benahan dirinya salah; pada orang yang tidak menderita gantran kejiwaan bila menghadapi persoalan, justru lekas memecahkan problemnya, sehingga tidak menekan perasaannya. Jadi bukan melarikan diri dan persoalan, tetapi melawan atau memecahkan persoalan.
3. Kekalutan merupakan titik patah (mental breakdown) dan yang bersangkutan mengalami gangguan
4. Krisis ekonomi yang berkepanjangan telah menyebabkan meningkatnya jumlah penderita penyakit jiwa, terutama gangguan kecemasan.
5. Dipicu oleh faktor psychoeducational. Faktor ini terjadi karena adanya kesalahan dalam proses pendidikan anak sejak kecil, mekanisme diri dalam memecahkan masalah. Konflik-konflik di masa kecil yang tidak terselesaikan, perkembangan yang terhambat serta tiap fase perkembangan yang tidak mampu dicapai secara optimal dapat memicu gangguan jiwa yang lebih parah.
6. Faktor sosial atau lingkungan juga dapat berperan bagi timbulnya gangguan jiwa, misalnya budaya, kepadatan populasi hingga peperangan. Jika lingkungan sosial baik, sehat tidak mendukung untuk mengalami gangguan jiwa maka seorang anak tidak akan terkena gangguan jiwa. Demikian pula sebaliknya. Gangguan jiwa tidak dapat menular, tetapi mempunyai kemungkinan dapat menurun dari orang tuanya. Namun hal ini tidak berlaku secara absolut.
1. Gangguan kejiwaan nampak dalam gejala-gejala kehidupan si penderita baik jasmani maupun rohaninya.
2. Usaha mempertahankan diri dengan cam negatif, yaitu mundur atau lari, sehingga cara benahan dirinya salah; pada orang yang tidak menderita gantran kejiwaan bila menghadapi persoalan, justru lekas memecahkan problemnya, sehingga tidak menekan perasaannya. Jadi bukan melarikan diri dan persoalan, tetapi melawan atau memecahkan persoalan.
3. Kekalutan merupakan titik patah (mental breakdown) dan yang bersangkutan mengalami gangguan
4. Krisis ekonomi yang berkepanjangan telah menyebabkan meningkatnya jumlah penderita penyakit jiwa, terutama gangguan kecemasan.
5. Dipicu oleh faktor psychoeducational. Faktor ini terjadi karena adanya kesalahan dalam proses pendidikan anak sejak kecil, mekanisme diri dalam memecahkan masalah. Konflik-konflik di masa kecil yang tidak terselesaikan, perkembangan yang terhambat serta tiap fase perkembangan yang tidak mampu dicapai secara optimal dapat memicu gangguan jiwa yang lebih parah.
6. Faktor sosial atau lingkungan juga dapat berperan bagi timbulnya gangguan jiwa, misalnya budaya, kepadatan populasi hingga peperangan. Jika lingkungan sosial baik, sehat tidak mendukung untuk mengalami gangguan jiwa maka seorang anak tidak akan terkena gangguan jiwa. Demikian pula sebaliknya. Gangguan jiwa tidak dapat menular, tetapi mempunyai kemungkinan dapat menurun dari orang tuanya. Namun hal ini tidak berlaku secara absolut.
2.8 Sebab-sebab timbulnya kekalutan mental yaitu
:
Kepribadian
yang lemah atau kurang percaya diri sehingga menyebabkan yang bersangkutan
merasa rendah diri, ( orang-orang melankolis)
Terjadinya
konflik sosial – budaya akibat dari adanya norma yang berbeda antara dirinya
dengan lingkungan masyarakat.
Pemahaman
yang salah sehingga memberikan reaksi berlebihan terhadap kehidupan sosial
(overacting) dan juga sebaliknya terlalu rendah diri (underacting).
Proses – proses yang diambil oleh sesorang
dalam menghadapii kekalutan mental, sehingga mendorongnya kearah :
Positif,
bila trauma (luka jiwa) yang dialami seseorang, akan disikapi untuk
mengambil hikmah dari kesulitan yang dihadapinya, setelah mencari jalan keluar
maksimal, tetapi belum mendapatkannya tetapi dikembalikan kepada sang
pencipta yaitu 4JJ1 SWT, dan bertekad untuk tidak terulang kembali
dilain waktu.
Negatif,
bila trauma yang dialami tidak dapat dihilangkan, sehingga yang bersangkutan
mengalami frustasi, yaitu tekanan batin akibat tidak tercapainya apa yang
dicita-citakan.
Contohnya :
Agresi, yaitu :
Meluapkan rasa emosi yang tidak terkendali dan cenderung melakukan
tindakan sadis yang dapat mambahayakan orang lain.
Regresi, yaitu : Pola
reaksi yang primitif atau kekanak-kanakan. (menjerit, menangis dll)
Fiksasi, yaitu :
Pembatasan pada satu pola yang sama (membisu, memukul dada sendiri dll)
Proyeksi, yaitu :
Melemparkan atau memproyeksikan sikap-sikap sendiri yang negatif pada orang
lain.
Indentifikasi, yaitu :
Menyamakan diri dengan sesorang yang sukses dalam imajinasi, (kecantikan,
dengan bintang film .dll)
Narsisme, self love
yaitu : Merasa dirinya lebih dari orang lain.
Autisme yaitu : Menutup
diri dari dunia luar dan tidak puas dengan pantasinya sendiri.
Penderita kekalutan mental lebih banyak terdapat dalam
lingkungan ;
Kota- kota besar yang
banyak memberikan tantangan hidup yang berat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Anak-anak usia muda
tidak berhasil dalam mencapai apa yang dikehendakinya.
2.9
Penderitaan & Perjuangan
Penderitaan
dikatakan sebagai kodrat manusia, artinya sudah menjadi konsekwensi manusia
hidup, bahwa manusia hidup ditakdirkan bukan hanya untuk bahagia, melainkan
juga menderita. Karena itu manusia hidup tidak boleh pesimis, yang menganggap
hidup sebagai rangkaian penderitaan. Manusia harus optimis, ia harus berusaha
mengatasi kesulitan hidupnya. Allah berfirman dalam surat Arra’du ayat 11,
bahwa Tuhan tidak akan merubah nasib seseorang kecuali orang itu sendiri yang berusaha
merubahnya.
Pembebasan dari penderitaaan pada hakekatnya meneruskan kelangsungan hidup. Caranya ialah berjuang menghadapi tantangan hidup dalam alam lingkungan, masyarakat sekitar, dengan waspada, dan disertai doa kepada Tuhan supaya terhindar dari bahaya dan malapetaka. Kita sebagai manusia hanya bisa merencanakan namun yang Tuhanlah yang yang menentukan hasilnya.
Pembebasan dari penderitaaan pada hakekatnya meneruskan kelangsungan hidup. Caranya ialah berjuang menghadapi tantangan hidup dalam alam lingkungan, masyarakat sekitar, dengan waspada, dan disertai doa kepada Tuhan supaya terhindar dari bahaya dan malapetaka. Kita sebagai manusia hanya bisa merencanakan namun yang Tuhanlah yang yang menentukan hasilnya.
2.10
Penderitaan, media massa & seniman
Berita
mengenai penderitaan manusia silih berganti mengisi lembaran koran, layar TV, pesawat
radio, dengan maksud agar semua orang yang menyaksikan ikut merasakan dari jauh
penderitaan manusia. Dengan demikian dapat mengunggah hati manusia untuk
berbuat sesuatu. Media massa adalah alat yang paling tepat untuk
mengkomunikasikan peristiwa-peristiwa penderitaan manusia secara cepat kepada
asyarakat luas. Dengan demikian masyarakat dapat segera menilai untuk
menentukan sikap anatara sesama manusia, terutama bagi mereka yang simpati.
Tetapi tidak kalah pentingnya komunikasi yang dilakukan para seniman melalui
karya seni, sehingga para pembaca dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari
karya tersebut.
2.11 Pengaruh Penderitaan Terhadap Kelangsungan Hidup Manusia
Penderitaan
mungkin akan memperoleh pengaruh bermacam-macam dan sikap dalam dirinya. Sikap
yang timbul dapat berupa sikap positif ataupun sikap negative. Sikap negative
misalnya penyesalan karena tidak bahagia, sikap kecewa, putus asa, ingin bunuh
diri. Sikap positif yaitu sikap optimis mengatasi penderitaan hidup, bahwa
hidup bukan rangkaian penderitaan, melainkan perjuangan membebaskan diri dari
penderitaan, dan penderitaan itu adalah hanya bagian dari kehidupan.
Orang yang merasa dirinya menderita akan mendapat tekanan dari dalam jiwanya dan rasa malu. Tak jarang banyak manusia yang ingin mengakhir hidupnya karena tidak kuat menopang siksaan dalam hidupnya. Ini terjadi di karenakan kekalutan mental. Kekalutan mental merupakan suatu keadaan dimana jiwa seseorang mengalami kekacuan dan kebingungan dalam dirinya sehingga ia merasa tidak berdaya.
Orang yang merasa dirinya menderita akan mendapat tekanan dari dalam jiwanya dan rasa malu. Tak jarang banyak manusia yang ingin mengakhir hidupnya karena tidak kuat menopang siksaan dalam hidupnya. Ini terjadi di karenakan kekalutan mental. Kekalutan mental merupakan suatu keadaan dimana jiwa seseorang mengalami kekacuan dan kebingungan dalam dirinya sehingga ia merasa tidak berdaya.
2.12
Contoh-contoh penderitaan dan penyebabnya
Berdasarkan
sebab-sebab timbulnya penderitaan, maka penderitaan manusia dapat dibagi
menjadi 2 bagian sebagai berikut :
o Nasib buruk penderitaan ini karenakan perbuatan buruk manusia yang dapat terjadi dalam hubungan sesama manusia dan alam sekitarnya. Perbedaan nasip buruk dan takdir adalah jika takdir di tentukan oleh tuhan sedangkan nasib buruk penyebabnya Karena ulah manusia itu sendiri. Contohnya : penderitaan yang timbul karena penyakit, siksaan / azab tuhan. Namun dengan kesabaran dan tawakal dan optimise merupakan usaha manusia untuk mengatasi penderitaan tersebut.
o Kehilangan orang tua, setiap manusia pasti mencintai orang tuanya dan memiliki hubungan yang erat dengan keluarganya. Penderitaan ini adalah yang paling sering kita jumpa dan sangat sedih tentunya .tapi kesedihan Karena penderitaan diharapkan tidak berlarut larut karena semua manusia yang hidup pasti akan kembali kepada tuhannya.
o Kemiskinan , banyak orang yang mederita karena kemiskinan , merasa tidak pernah cukup dengan apa yang telah ia punya sehingga mengakibatkan seseorang merasa menderita karena tidak bisa memiliki sesuatu yang ia inginkan. Ini di karena kan kurangnya rasa syukur manusia atas apa yang telah di berikan oleh tuhan.
o Bencana, tidak ada seorang pun yang dapat menghindari bencana yang tuhan berikan. Bencana bisa kapan saja dating dan menimpa siapa saja bahkan seringkali mengakibatkan kehilangan anggota keluarga. Trauma batin yang diakibatkan karena bencana juga sulit di sembuhkan.
o Nasib buruk penderitaan ini karenakan perbuatan buruk manusia yang dapat terjadi dalam hubungan sesama manusia dan alam sekitarnya. Perbedaan nasip buruk dan takdir adalah jika takdir di tentukan oleh tuhan sedangkan nasib buruk penyebabnya Karena ulah manusia itu sendiri. Contohnya : penderitaan yang timbul karena penyakit, siksaan / azab tuhan. Namun dengan kesabaran dan tawakal dan optimise merupakan usaha manusia untuk mengatasi penderitaan tersebut.
o Kehilangan orang tua, setiap manusia pasti mencintai orang tuanya dan memiliki hubungan yang erat dengan keluarganya. Penderitaan ini adalah yang paling sering kita jumpa dan sangat sedih tentunya .tapi kesedihan Karena penderitaan diharapkan tidak berlarut larut karena semua manusia yang hidup pasti akan kembali kepada tuhannya.
o Kemiskinan , banyak orang yang mederita karena kemiskinan , merasa tidak pernah cukup dengan apa yang telah ia punya sehingga mengakibatkan seseorang merasa menderita karena tidak bisa memiliki sesuatu yang ia inginkan. Ini di karena kan kurangnya rasa syukur manusia atas apa yang telah di berikan oleh tuhan.
o Bencana, tidak ada seorang pun yang dapat menghindari bencana yang tuhan berikan. Bencana bisa kapan saja dating dan menimpa siapa saja bahkan seringkali mengakibatkan kehilangan anggota keluarga. Trauma batin yang diakibatkan karena bencana juga sulit di sembuhkan.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Manusia
menjalani kehidupan didunia ini akan selalu mengalami dua hal
yang selalu silih berganti antara kebahagiaan / kesenangan dengan
penderitaaan / kesusahan. Penderitaan atau kesusahan itu merupakan ujian dari
Allah SWT yang telah menciptakan manusia, penderitaan itu dapat menimpah kepada
dua aspek dari manusia yaitu aspek jasmani dan aspek rohani, penderitaan dapat
berupa siksaan yaitu kebimbangan, kesepian dan ketakutan serta kekalutan mental
yang dapat membuat manusia menderita. Manusia akan lebih menghargai kebahagiaan
kalau manusia itu pernah merasakan penderitaan, karena ia merasakan bagaimana
rasanya menderita dan ternyata suatu penderitaan bukanlah sebuah hambatan
untuk meraih kesuksesan atau cita-cita, banyak kita temukan atau jumpai
ternyata seseorang yang menderita ternyata mempunyai semangat / kekuatan
baru dalam menjalani hidupnya (tahan banting), tergantung bagaimana
seseorang tersebut mengambil hikmah atau pelajaran dari segala bentuk
penderitaan yang dialaminya, contohnya : semula ia adalah seseorang yang hidup
sangat sederhana, yang setiap waktu biaya hidupnya hanya dari mengumpulkan
barang-barang bekas, tapi berkat keuletan dan semangatnya dalam menjalani hidup
ternyata dilain waktu hidupnya berubah, sekarang ia menjadi bos atau juragan,
dan berubahlah hidupnya sekarang, yang dahulunya penuh dengan kekurangan dan
penderitaan menjadi serba ada, dari contoh penderitaan diatas, ternyata sebuah
penderitaan itu tidak selamanya buruk, tergantung dari segi dan apa yang dapat
kita ambil dari suatu penderitaan tersebut.
3.2 Saran
– saran
Penderitaan
seharusnya tidak menjadi sebuah hambatan atau bumerang dalam menjalani
kehidupan, setiap langkah dalam hidup kita akan dimintakan pertanggung jawaban
oleh Allah SWT, untuk itu besar harapan dari kami untuk bersama-sama
mengintrospeksi diri serta mengambil pelajaran dari setiap musibah dan
penderitaan yang kita alami. Perlu diketahui bahwa Allah itu memberi suatu
cobaan sebatas kemampuan manusia itu sendiri. Dan setiap cobaan, musibah dan
penderitaan pasti semua ada hikmah yang dapat kita ambil, Serta yang utama kita
harus banyak-banyak bersyukur, serta melapangkan hati untuk senantiasa ikhlas
dalam menghadapi sebuah cobaan.
Penderitaan
yang dialami manusia dapat diatasi dengan cara banyak bersyukur atas nikmat dan
karunia yang telah diberikan oleh Allah kepada manusia. Dan juga bersosialisasi
dan mencari kawan tempat kita mencurahkan permasalahan dan penderitaan kita
serta penderitaan juga dapat dikurangi dengan banyak melakukan aktivitas yang
dapat menyibukan diri dan melupakan penderitaan yang tengah kita alami,
sehingga rasa kesepian tidak lagi memperoleh tempat yang menyita waktu dalam
diri.
DAFTAR PUSTAKA

0 komentar:
Posting Komentar