MAKALAH MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP
NAMA
: FAJAR KURNIAWAN
NPM
: 52417110
KELAS
: 1IA14
UNIVERSITAS GUNADARMA
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami penjatkan kehadirat
Allah SWT, yang atas rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan
makalah yang berjudul “Manusia Dan Pandangan Hidup”.
Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas yang diberikan dalam mata
kuliah Ilmu Budaya Dasar di Universitas Gunadarma.
Dalam Penulisan makalah ini kami
merasa masih banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi,
mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu, kritik dan saran dari
semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini penulis
menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang
membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada Dosen kami yang
telah memberikan tugas dan petunjuk kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan tugas ini.
DAFTAR ISI
Halaman Judul................................................................ i
Kata Pengantar...............................................................
ii
Daftar
Isi....................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang................................................................1
1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………….3
1.3Tujuan……………………………………………………………………………3
BAB II PEMBAHSAN
BAB III PENUTUP……………………………………………..15
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………….16
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pandangan
hidup merupakan suatu dasar atau landasan untuk membimbing kehidupan jasmani
dan rohani. Pandangan hidup ini sangat bermanfaat bagi kehidupan individu,
masyarakat, atau negara. Semua perbuatan tingkah laku dan aturan serta
undang-undang harus merupakan pancaran dari pandangan hidup yang telah
dirumuskan.
Pandangan
hidup sering disebut filsafat hidup. Filsafat berarti cinta akan kebenaran,
sedangkan kebenaran dapat dicapai oleh siapa saja. Hal inilah yang
mengakibatkan pandangan hidup itu perlu dimiliki oleh semua orang dan semua
golongan.
Muslim
sejati hendaknya memiliki pandangan hidup yang Islami, agar apa yang ia lakukan
senantiasa berlandaskan pada Al-Qur’an dan Al-Hadits. Oleh karena itu penulis
tertarik untuk menyusun makalah yang berjudul, “Manusia Dan Pandangan Hidup
Yang Islami”, agar dapat membantu kita semua memiliki pandangan hidup yang
islami, yang berdasarkan pada Al-Qur’an dan Hadits.
B. Rumusan
Masalah
1. Mengapa
perlu adanya pandangan hidup manusia?
2. Apa
saja sumber pandangan hidup manusia?
3. Apa
saja aliran keyakinan atau kepercayaan yang mendasari pandangan hidup manusia?
C. Tujuan
1. Mengetahui
dan Mejelaskan pandangan hidup manusia
2. Mendeskripsikan
sumber-sumber pandangan hidup manusia
3. Menjabarkan
alira-aliran keyakinan atau kepercayaan yang mendasari pandangan hidup manusia
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
PANDANGAN HIDUP DAN IDEOLOGI
1. Pandangan
Hidup
Pandangan
hidup adalah nilai-nilai yang dianut oleh sutau masyarakat, yang dipilih secara
selektif oleh para individu dan golongan di dalam masyarakat (Koentjaraningrat,
1980). Pandangan hidup terdiri atas cita-cita, kebajikan, dan sikap hidup.
Cita-cita, kebajikan, dan sikap hidup itu tak dapat dipisahkan dengan
kehidupan. Dalam kehidupannya manusia tidak dapat melepaskan diri dari
cita-cita, kebajikan, dan sikap hidup itu (Suyadi, M.P., 1985).
Pandangan
hidup merupakan bagian dari hidup manusia. Tidak ada seorang pun yang hidup
tanpa pandangan hidup meskipun tingkatannya berbeda-beda. Pandangan hidup itu
mencerminkan citra diri seseorang karena pandangan hidup ini mencerminkan
cita-cita atau aspirasinya (Manuel Kaisiepo, 1982). Apa yang dikatakan oleh seseorang
adalah pandangan hidup karena dipengaruhi oleh pola berpikir tertentu. Tetapi,
terkadang sulit dikatakan suatu itu pandangan hdiup, sebab dapat pula hanya
suatu idelisasi belaka yang mengikuti kebiasaan berpikir yang sedang
berlangsung di dalam masyarakat.[1]
Biasanya
orang akan selalu ingat dan taat kepada Sang Pencipta bila sedang dirundung
kesusahan. Namun, bila sedang dalam keadaan senang, bahagia, serta kecukupan,
mereka lupa akan pandangan hidup yang diikutinya, berkurang rasa pengabdiannya
kepada Sang Pencipta. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor:
1) Kurangnya
penghayatan pandangan hdiup yang diyakini
2) Kurangnya
keyakinan pandangan hidupnya
3) Kurang
memahami nilai dan tuntutan yang terkandung dalam pandangan hidupnya.
4) Kurang
mampu mengatasi keadaan sehingga lupa pada tuntutan hidup yang ada dalam
pandangan hidupnya.
5) Atau
sengaja melupakannya demi kebutuhan diri sendiri. (Habib Mustopo, 1986)
Manuel
Kaisiepo (1982) dan Abdurrahman Wahid (1985) berpendapat bahwa pandangan hidup
bersifat elastis. Maksudnya bergantung pada situasi dan kondisi serta tidak
selamanya bersifat positif.[2] Bahkan pandangan hidup dapat terjadi
tidak dengan kesadaran atau “kesadaran yang dinyatakan,” tetapi “kesadaran yang
tak dinyatakan”, sebagai akibat kepengapan kondisi.[3]
2. Sumber
Pandangan Hidup
Ada
bermacam-macam sumber pandangan hidup. Ini dapat dikelompokkan ke dalam tiga
kelompok, yaitu:
1) Pandangan
hidup yang bersumber dari agama (pandangan hidup muslim). Kebenarannya mutlak.
Contoh, pandangan muslim bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasul (sikap,
perkataan, dan perbuatan Nabi Muhammad SAW). Dengan demikian maka, pandangan
hidup muslim adalah kesetiaannya kepada Islam tentang berbagai masalah asasi
hidup manusia, yang merupakan jawaban muslim yang berorientasi terhadap Islam
mengenai berbagai persoalan pokok hidup manusia yang tersimpul dalam Al-Qur’an
dan Hadits.[4]
Pandangan
hidup muslim terdiri atas:
a. Pedoman
hidup ialah Al-Qur’an (QS Al-Baqarah : 2) dan As-Sunnah
b. Dasar
hidupnya ialah Islam
c. Tujuan
hidupnya
1) Berdasarkan
arahnya ialah (1) tujuan hidup vertikal mendapatkan keridhaan Allah (QS
Al-Baqarah : 207), (2) tujuan hidup horizontal ialah kebahagiaan dunia dan
akhirat (QS Al-Baqarah : 201) serta menjadi rahmat bagi segenap alam (QS
Al-Anbiya : 107).
Ditinjau
dari segi lingkungan:
a) Tujuan
sebagai individu (QS Al-Baqarah : 208).
b) Tujuan
sebagai anggota keluarga (QS Ar-Rum : 21).
c) Tujuan
sebagai warga lingkungan (QS Saba’ : 15).
d) Tujuan
sebagai warga negara atau bangsa (QS Saba’ : 15).
e) Tujuan
sebagai warga dunia (QS Al-Qasas : 77).
f) Tujuan
sebagai warga alam semesta (universum) (QS Al-Baqarah : 107).
d. Tugas
hidup muslim adalah ibadah (QS Az-Zariyat : 56), termasuk ibadah dalam arti
khusus dan arti luas.
e. Fungsi
hidup muslim adalah (1) sebagai khalifah dimuka bumi, yaitu menerjemahkan
segala sifat-Nya ke dalam perikehidupan dan penghidupan sehari-hari dalam
batas-batas kemanusiaan (kemampuan), melaksanakan segala yang diridhai Allah
diatas persada buana ciptaan Allah (QS Al-Baqarah : 30). (2) sebagai fungsi
risalah atau penerus risalah (ajaran) Nabi, pengemban tugas dakwah kepada
segenap umat manusia (QS Ali-Imran : 104).
f. Alat
hidup muslim adalah harta benda dan segala sesuatu yang dimilikinya, jiwa raga
dan sebagainya.
g. Teladan
hidupnya adalah Nabi Muhammad, utusan Allah (QS Al-Qalam:4). Hadits: “Sesungguhnya
aku dibangkitkan untuk menyempurnakan akhlak yang utama, budi yang tinggi.”
h. Kawan
hidup muslim dalam arti khusus adalah suami atau istri yang taat kepada Allah
(QS Ar-Rum : 21, QS Al-A’raf : 189, QS At-Taubah : 71, QS An-Nisa : 34)
i. Lawan
hidup muslim adalah setan (QS An-Nas : 4-6)
1.
Pandangan hidup muslim, ruang lingkupnya
meliputi seluruh bidang hidup manusia. Ia hendak menuang bukan saja kehidupan
perseorangan, melainkan juga susunan masyarakat manusia kedalam pola-pola yang
sehat sehingga ajaran Islam dapat dibangun dengan sebenar-benarnya di permukaan
bumi (Maududi, 1979).
2.
Pandangan hidup yang
bersumber dari ideologi merupakan abstraksi dari nilai-nilai budaya suatu
negara atau bangsa. Misalnya ideologi Pancasila dapat merupakan sumber
pandangan hidup, sebagimana halnya P4.
3.
Pandangan hidup yang bersumber dari hasil
perenungan seseorang sehingga dapat merupakan ajaran atau etika untuk hidup,
misalnya aliran-aliran kepercayaan.
3. Ideologi
Ideologi
menurut William (1959) mengandung dua hal, yaitu:
1) Unsur-unsur
filsafat yang digunakan, atau usulan-usulan yang digunakan sebagai dasar untuk
kegiatan.
2) Pembenaran
intelektual untuk seperangkat norma-norma, seperti kapitalisme dan sebagainya.
Ideologi
merupakan komponen dasar terakhir dari sistem-sistem sosio-budaya. Pengertian
ini menyangkut sistem-sistem dasar kepercayaan dan petunjuk hidup sehari-hari.
Suatu ideologi bagi masyarakat tersusun dari tiga unsur, yaitu (1) pandangan
hidup, (2) nilai-nilai, (3) norma-norma (Lenski), 1974).
Pendapat
ini menunjukkan bahwa pandangan hidup itu merupakan bagian dari ideologi
kebudayaan dapat membuat kemungkinan-kemungkinan menjawab pertanyaan mengapa
(why) tentang sesuatu dari kehidupan. Untuk menjawabnya, masyarakat
mengekspresikan hasil kebudayaannya untuk mencapai beberapa pengertian. Dalam
kenyataannya ternyata ilmu pengetahuan mampu menjawab pertanyaan mengapa
(why)-nya sesuatu, tetapi sekaligus mengundang pertanyaan-pertanyaan
selanjutnya.
Pada abad
ke-18 dan awal abad ke-20, banyak orang berpikir bahwa ilmu pengetahuan dapat
menggantikan semua kedudukan ideologi (termasuk pandangan hidup) dan merupakan
pelengkap terakhir dari keterbatasan pandangan hidup. Sudah mafhum bahwa sains
modern telah memikirkan segala sesuatu, bahkan mendidik pribadi untuk bersikap
mengambil sejumlah kemudahan dalam merumuskan pandangan hidupnya. Tetapi,
lambat laun sains tidak dapat menghasilkan kreasinya, dalam kenyataan ia
menghindar dari soal-soal alam yang mendasar tentang realitas.
Seperti
diuraikan di muka, di dalam ideologi tidak hanya ada norma dan pandangan hidup,
tetapi ada nilai-nilai. Hanya yang penting ialah bahwa nilai-nilai itu
cenderung mengikat pandangan hidup. Pandangan hidup merupakan pelengkap nilai-nilai
dalam membuat pembenaran atau rasionalisasi untuk nilai-nilai, seperti untuk
melakukan suatu kegiatan, pandangan hidup memberi semangat kepada nilai-nilai.
Demikian pula norma-norma digunakan untuk hampir seluruh aturan khusus. Bedanya
dengan nilai, kedudukan nilai selalu dalam pengertian umum. Norma berlaku dalam
menentukan perilaku perintah atau larangan, untuk suatu kewajiban dari peranan
spesifik dalam situasi yang spesifik pula sehingga norma menjiwai pandangan
hidup dalam hal-hal yang spesifik.
Dari
uraian diatas, tampak pada kita bahwa ideologi lebih luas daripada pandangan
hidup. Ideologi biasanya tidak dipakai dalam hubungan individu. Ideologi
dipakai dalam konteks yang lebih luas, seperti ideologi negara, ideologi
masyarakat, atau ideologi kelompok tertentu. Ideologi sebagai pedoman hidup
merupakan suatu cita-cita yang ingin dicapai oleh banyak individu dalam
masyarakat. Tetapi, lahirnya suatu ideologi dapat disusun secara sadar oleh
tokoh-tokoh, pemikir suatu masyarakat atau golongan tertentu dari masyarakat,
yang diperuntukkan bagi masyarakat.[5]
B. CITA-CITA
Cita-Cita
adalah keinginan yang ada dalam hati seseorang. Cita-cita itu mungkin tercapai
atau mungkin tidak. Dalam hal cita-cita ini Allah bertanya dalam firman-Nya:
“Atau
apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya?” (QS An-Najm : 24)
Dalam
ungkapan manusia punya cita-cita, tetapi Allah yang menentukan. Agar cita-cita
tersebut dikabulkan oleh Allah, ada beberapa faktor yang harus dipenuhi:
berbakti dan berdoa kepada Allah serta berjuang keras. Syarat-syarat untuk
perjuangan harus dipenuhi. Untuk itu semua diperlukan perjuangan, kerja keras,
disiplin belajar tekun, ulet, sabar, penuh dedikasi dan manusiawi serta
bertakwa kepada Allah. Sebab kegiatan apapun yang kita lakukan, ketentuan di
tangan Allah. Namun demikian Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang atau
suatu kaum apabila kaum itu tidak mengubah nasibnya sendiri. Firman Allah SWT.
dalam Al-Quran:
“Allah
tidak akan mengubah nasib seseorang atau suatukaum, apabila kaum itu tidak
mengubahnya sendiri.” (QS Al-Anfal : 53)
Tetapi
bila cita-cita belum tercapai akibat belum terpenuhi persyaratannya maka
cita-cita tersebut baru disebut harapan. Namun demikian, cita-cita yang
bertaruh harapan masih merupakan unsur pandangan hidup, karena masih member
kemungkinan ada keberhasilan dan ini mendorong manusia untuk tetap berusaha
mengatasi kegagalan yang dialami.
C. KEBAJIKAN
1. Makna
Kebajikan
Kebajikan
dapat diartikan kebaikan, sesuatu yang mendatangkan kebaikan, keselamatan,
keuntungan, kemakmuran, dan kebahagiaan. Manusia berbuat kebaikan, karena
menurut kodratnya, manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, suci. Dengan
kesucian jiwanya itu mendorong hati nuraninya untuk berbuat kebaikan. Firman
Allah SWT:
“Sesungguhnya
Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebaijkan, memberi kaum kerabat,
dan Allah melarang dia berbuat keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi
pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS An Nahl : 90)
“Sesungguhnya
Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.”
(QS An-Nahl : 128)
2. Sumber
Kebajikan
Kebajikan
berasal dari dua sumber, yaitu manusia sebagai khalifah Allah di bumi ini, dan
Allah Yang Maha Kuasa, yang menciptakan manusia beserta alam semesta dan
isinya.
Kebajikan
Tuhan adalah berupa karunia-Nya. Bagi orang yang tidak beriman kepada Tuhan
mereka tidak percaya adanya kebajikan yang berasal dari karunia-Nya. Tetapi
bagi orang yang beriman, ia percaya bahwa kebajikan manusia adalah karena
karunia-Nya juga. Manusia sekedar perantara saja.
Kebajikan
itu dapat berupa tingkah laku atau perbuatan, benda-benda yang berwujud atau
benda-benda yang tak berwujud.
Sabda
Rasulullah SAW:
“Barangsiapa
yng dikehendaki baik oleh Allah, maka ia dipintarkan dalam hal keagamaan dan
diilhami oleh-Nya kepandaian dalam hal itu.” (HR Bukhari, Muslim dan Tabrani)
Firman
Allah SWT:
“Allah
mengangkat orang-orang yang beriman dari golonganmu semua dan juga orang-orang
yang dikaruniai ilmu pengetahuan hingga beberapa derajat.” (QS Mujadalah : 11)
Dalam
menjelaskan kebajikan ilmu bahwa ilmu pengetahuan itu lebih utama daripada
ibadah dan penyaksian, Rasulullah SAW bersabda:
“Keutamaan
seorang alim diatas seorang ‘abid (orang yang beribadah) sebagaimana
keutamaanku di atas serendah dari golongan sahabat-sahabatku.” (HR Tirmidzi)
Sehubungan
dengan kebajikan dan keutamaan ilmu pengetahuan, salah-satu wasiat yang
disampaikan oleh Luqman kepada anaknya ialah:
“Hai
anakku, pergaulilah para alim ulama dan rapatilah mereka itu dengan kedua
lututmu, sebab sesungguhnya Allah SWT menghidupkan hati dengan cahaya hikmat
sebagaimana Dia menghidupkan bumi dengan hujan lebat dari langit.”
D. KEYAKINAN
ATAU KEPERCAYAAN
Keyakinan
atau kepercayaan yang menjadi dasar pandangan hidup berasal dari akal atau
kekuatan Tuhan. Untuk mengetahui hal ini marilah kita ikuti uraian Prof Dr.
Harun Nasution. Menurut beliau ada tiga aliran filsafat, yaitu aliran
naturalisme, aliran intelektualisme, dan aliran gabungan.
1. Aliran
Naturalisme
Hidup
manusia dihubungkan dengan kekuatan gaib yang merupakan kekuatan tertinggi.
Kekuatan gaib itu dari natur, dan natur itu dari Tuhan, Tetapi bagi yang tidak
percaya Tuhan, natur itulah yang tertinggi. Tuhan menciptakan alam semesta
lengkap dengan hukum-hukumnya, secara mutlak dikuasai Tuhan.
Aliran
naturalisme berintikan spekulasi, mungkin ada Tuhan dan mungkin tidak ada
Tuhan. Lalu mana yang benar? Yang benar adalah keyakinan. Jika kita yakin Tuhan
itu ada, maka kita katakan Tuhan itu ada. Bagi yang tidak yakin dikatakan Tuhan
tidak ada, yang ada hanyalah natur.
Ajaran
agama itu ada dua macam:
1) Ajaran
agama yang dogmatis, yang disampaikan oleh Tuhan melalui Nabi-Nabi. Ajaran ini
bersifat mutlak, terdapat dalam Al-Quran dan Hadits. Sifatnya tetap, tidak
berubah-ubah.
2) Ajaran
agama dari pemuka-pemuka agama, yaitu sebagai hasil pemikiran manusia, sifatnya
relatif (terbatas). Ajaran agama dari pemuka-pemuka agama termasuk dalam
kebudayaan, terdapat dalam buku-buku agama yang ditulis pemuka-pemuka agama.
Sifatnya dapat berubah-ubah sesuai dengan perkembangan agama.
Apabila
aliran naturalisme ini dihubungkan dengan pandangan hidup maka keyakinan manusia
itu bermula dari Tuhan. Jadi, pandangan hidupnya dilandasi oleh ajaran-ajaran
agama. Pandangan hidup yang dilandasi oleh keyakinan bahwa Tuhanlah kekuasaan
tertinggi, yang menentukan segala-galanya, disebut pandangan hidup keagamaan
(religius).
Sebaliknya,
apabila manusia tidak mengakui adanya Tuhan, natur adalah kekuatan tertinggi,
maka keyakinannya itu bermula dari kekuatan natur. Pandangan hidupnya dilandasi
oleh kekuatan natur (ateistik). Ini disebut pandangan hidup komunisme.
2. Aliran
Intelektualisme
Dasar
aliran ini ialah akal atau logika. Manusia mengutamakan akal. Dengan akal
manusia berpikir. Mana yang benar menurut akal itulah yang baik, walaupun
mungkin bertentangan dengan hati nurani.
Akal
berasal dari bahasa Arab, artinya kalbu, yang berpusat di hati. Sehingga timbul
istilah “hati nurani”, artinya “daya rasa”. Di barat hati nurani ini menipis,
justru yang menonjol ialah akal yaitu logika berpikir. Karena itu aliran ini
banyak dianut oleh kalangan barat.
Apabila
aliran ini dihubungkan dengan pandangan hidup maka keyakinan manusia itu
bermula dari akal. Jadi pandangan hidup itu dilandasi oleh keyakinan kebenaran
yang diterima akal. Benar menurut akal itulah yang baik. Manusia yakin bahwa
kebajikan hanya dapat diperoleh dengan akal (ilmu dan teknologi). Pandangan
hidup ini disebut liberalisme.
3. Aliran
Gabungan
Dasar
aliran ini adalah kekuatan gaib dan juga akal. Kekuatan gaib artinya kekuatan
yang berasal dari Tuhan, percaya adanya Tuhan sebagai dasar keyakinan.
Sedangkan akal adalah dasar kebudayaan, yang menentukan benar tidaknya sesuatu.
Segala sesuatu dinilai dengan akal, baik sebagai logika berpikir maupun sebagai
daya rasa (hati nurani). Jadi apa yang benar menurut logika berpikir, juga dapat
diterima oleh hati nurani.
Apabila
aliran ini dihubungkan dengan pandangan hidup maka akan timbul dua kemungkinan
pandangan hidup. Apabila keyakinan lebih berat didasarkan pada logika berpikir,
sedangkan hati nurani dinomorduakan, kekuatan gaib dari Tuhan diakui adanya
tetap tidak menentukan. Dan logika berpikir tidak ditekankan pada
logika berpikir individu, melakinkan logika berpikir kolektif. Pandangan hidup
ini adalah disebut sosialisme.
Apabila
dasar keyakinan itu kekuatan gaib dari Tuhan dan akal, kedua-keduanya mendasari
keyakinan secara berimbang, akal dalam arti baik sebagai logika berpikir maupun
sebagai hati nurani, logika berpikir secara individual maupun secara kolektif.
Pandangan hidup ini disebut sosialisme religius. Kebajikan yang dikehendaki
adalah kebajikan yang benar menurut logika berpikir dan dapat diterima oleh
hati nurani, semuanya itu berkat karunia Tuhan.
Pandangan
hidup sosilaisme menekankan pada logika berpikir kolektif, sedangkan pandangan
hidup sosialisme religius menekankan pada logika berpikir kolektif dan
individual. Pandangan hidup sosialisme mengutamakan logika berpikir daripada
hati nurani, sedangkan sosialisme religius mengutamakan kedua-duanya, logika
berpikir dan hati nurani. Pandangan hidup sosialisme tidak begitu menghiraukan
kekuasaan Tuhan, sebaliknya bagi sosialisme religius kekuasaan Tuhan justru
menentukan.[6]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pandangan
hidup adalah nilai-nilai yang dianut oleh sutau masyarakat, yang dipilih secara
selektif oleh para individu dan golongan di dalam masyarakat yang terdiri atas
cita-cita, kebajikan, dan sikap hidup.
Terdapat
3 sumber pandangan hidup:
1. Pandangan
hidup yang bersumber dari agama (pandangan hidup muslim) yang kebenarannya
bersifat mutlak (absolut).
2. Pandangan
hidup yang bersumber dari ideologi yang merupakan abstraksi dari nilai-nilai
budaya suatu negara atau bangsa.
3. Pandangan
hidup yang bersumber dari hasil perenungan seseorang sehingga dapat merupakan
ajaran atau etika untuk hidup.
Manusia
yang memiliki pandangan hidup yang baik dan benar (khususnya muslim), pasti
memiliki cita-cita yang dengannya mereka akan sungguh-sungguh dalam
memperjuangkan cita-cita tersebut sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan Hadits.
Kemudian, pandangan hidup yang baik dan benar juga akan melahirkan
kebajikan-kebajikan dalam diri manusia terhadap sesama dan lingkungannya (alam
semesta).
Keyakinan
atau kepercayaan yang menjadi dasar pandangan hidup berasal dari akal atau
kekuatan Tuhan. Terdapat tiga aliran besar keyakinan atau kepercayaan yang
mendasari pandangan hidup manusia. Diantaranya ialah, aliran naturalisme,
aliran intelektualisme, dan aliran gabungan. Aliran naturalisme mendasari
pemikirannya berdasarkan hal yang gaib, sedangkan aliran intelektualisme
berpendapat bahwa akal adalah sumber utama dari kebenaran. Sementara aliran
gabungan ialah gabungan dari kedua aliran sebelumnya.
DAFTAR
PUSTAKA

0 komentar:
Posting Komentar